Skip to main content

Ya Allah

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Kebenaran sebesar debu di padang pasir, yang tersembunyi di balik batu hitam, yang diterbangkan angin kala ditiup, yang melekat di tubuh manusia dan tersembunyi di balik kain yang dipakainya, yang lambat laun bercampur keringat manusia dan kemudian tak satupun melihat kebenaran itu. Hanya Engkau Yang Tahu. Hanya Engkau yang berkuasa atas arah angin membawa debu dan hinggap di mana, Engkau Yang menentukan dimana debu terlihat, siapa yang menggenggamnya dan siapa yang berhak memilikinya

Sungguh hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat debu itu, debu yang disikapi dengan pengertian, kasih sayang yang tulus, ikhlas dan padamnya amarah. Engkau yang menguasai debu atas diriku.

Aku berusaha memperlihatkannya pada orang-orang. Izinkanlah aku mengungkapnya meski itu pahit dan mendatangkan bahaya bagi diriku sendiri. Maafkan aku ya Allah,

Comments

Popular posts from this blog

CRAZYBLOG Malem all, gimana kabar kalian semua? Tumben aku utak atik blog lagi ragara liat webnya temenku www.vikavilanti.com inget deh  ternyata ada blog yang udah lama aku tinggali ragara kesibukan di dunia kerja. Ooppss yaa terakhir kali aku banyak banget mostingin tentang lowongan kerja, yap! Tu karna aku juga lagi nyari kerjaan waktu itu. Teruuusss setelah dpt kerjaan blog ni ditinggalin gittuu? Hiks jahatnya aku. By the way saat ini aq kerja di sebuah bank terkemuka di Indonesia yang setengah sahamnya adalah milik pemerintah BRI doongss.... hhihihi behimana ceritanya aku hisa kerja di sini sementara basic edu nya bukan di sini #nah loch... Bingung? Gak usah bingung, pantengin ja blog ni setetusnya krna aku dah tobat mau nulis banyak setelah malam ni. Kebetulan aku ru plg kerja, capek dan laper, itu aja dulu besok disambung lagi,,, welcome back Diana! #Nulisnya pake tab ni jd agak belepotan

Cerbung

16.24 Aku menunduk lemas.. persendianku bagaikan 2 kutub magnet yang sejenis : tolak-menolak dan tak mau saling terkait;atau ibarat dua benda sejenis yang ber-adhesi ria: tak semestinya. Tak ada kekuatan untuk mempertahankan tubuhku dari tarikan gravitasi. “Bruuuk!!!”. Aku ambruk, jatuh ke lantai, tapi dokter Ida segera membangunkanku dan membantuku duduk di sofa maroon : warna kesukaanku. Seharusnya aku tidak perlu jatuh, atau lebih tepatnya aku seharusnya duduk di depan dokter Ida : di balik meja. Tapi hasil test laboratorium yang ditunjukkan padaku bagai stimulant dahsyat yang membuat kakiku refleks memberikan daya dan gaya pada tubuhku untuk berdiri tegap : walau hanya sekejap, persis saat refeks hammer menyentuh bagian patella . Tak ayal, selembar visum et repertum yang ada di tanganku melayang lemah gemulai: perlahan tapi pasti. Ingin rasanya aku segera meremas benda tak berdosa itu, benda yang dulu menjadi lambang kebanggaanku kini menjadi lambang kedukaan bagiku. Ingin ...